Manajer, Jangan Memerintah Bawahan Anda

Manajer, Jangan Memerintah Bawahan Anda

 

Banyak orang percaya untuk menjadi seorang manajer yang baik Anda harus memberikan perintah untuk bawahan Anda. Mereka salah. Malahan, Anda tidak harus memberi perintah terhadap bawahan.

 

Mengapa sebaiknya tidak memerintah bawahan Anda?

 

Perintah membatasi ruang gerak.

Ketika Anda memberikan perintah, Anda menyuruh seseorang untuk melakukan sesuatu. Anda tidak memberikan kesempatan terhadap bawahan Anda untuk memikirkan apa yang harus dilakukan atau bagaimana melakukannya. Mereka hanya dapat melakukan sesuai yang Anda suruh. Ada dua alasan mengapa memerintah bawahan sebenarnya berdampak buruk. Pertama, Anda tidak memberi kesempatan kepada bawahan Anda untuk memikirkan cara terbaik melakukan perintah Anda. Kedua, Anda tidak membiarkan mereka belajar. Hal ini dapat membuat karyawan tidak merasa berkembang dan memutuskan untuk mengundurkan diri.

Terkadang menerintah bawahan adalah hal yang harus dilakukan, khususnya jika Anda bekerja sebagai komandan militer, di mana pasukan Anda harus menyerang tanpa perlu berpikir panjang. Jika Anda bekerja sebagai manajer di kantor (bukan di medan perang atau lebih buruk, bos diktator), lebih baik memberikan instruksi ketimbang perintah. Daripada memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan, Anda hendaknya memberi tahu mereka apa yang harus diselesaikan.

 

Instruksi mengajak tim untuk berpikir.

Saat Anda memberi tahu bawahan tentang apa yang harus diselesaikan, Anda memberikan kebebasan untuk menyelesaikan permintaan Anda. Mungkin solusi yang diberikan bukanlah yang terbaik dan Anda memang harus mengawasi serta membimbing, namun mungkin juga mereka akan memberikan solusi yang lebih baik dari Anda pikir. Ketika Anda memberikan instruksi, mereka harus berpikir sendiri dan tidak sekedar menjalankan perintah saja. Akan ada rasa kepemilikan dan rasa percaya ketika mereka berhasil mengerjakannya.

 

Sampaikan instruksi dengan jelas.

Perintah biasanya disebutkan dengan spesifik dan jelas, serta tidak memberi ruang untuk interpretasi. Ketika Anda memberi instruksi, pastikan Anda menyampaikan dengan jelas hasil yang Anda harapkan. Jadi, daripada berkata, “Saya ingin kamu me-review data bulan lalu.” Anda bisa berkata, “Tolong review data bulan lalu. Senin pagi, saya ingin mendengar rekomendasimu tentang alternatif meningkatkan penjualan.” Seorang manajer yang baik mampu membuat instruksi dengan jelas dan menyampaikan apa yang diharapkan, sehingga hasil akhirnya tidak melenceng jauh.

 

Ganti perintah dengan instruksi.

Tugas Anda sebagai seorang manajer adalah untuk menyelesaikan sesuatu, namun itu juga berarti menyelesaikan sesuatu melalui orang lain. Jika Anda memberi perintah, Anda seolah membatasi ruang gerak bawahan dan tidak percaya mereka bisa berpikir sendiri. Ketika Anda memberi instruksi, Anda membiarkan karyawan berkontribusi menyelesaikan pekerjaan.

Mungkin hasilnya tidak sebagus yang bisa Anda lakukan sendiri, namun itu adalah indikasi bahwa tim Anda butuh pelatihan lebih lanjut. Bisa juga tanpa disangka, hasilnya di luar ekspektasi dan lebih baik dari yang Anda kira. Hal ini bisa membuat bawahan Anda merasa terlibat dan termotivasi, sekaligus membuat Anda kelihatan sebagai pemimpin yang baik.

 

Cobalah ganti kalimat perintah Anda dengan instruksi. Beri tahu karyawan dengan jelas hasil apa yang Anda harapkan dan biarkan mereka mencari tahu bagaimana melakukannya. Selamat mencoba!

Apa Anda setuju dengan artikel di atas? Ayo, share di comment box!

 

Bergabunglah di Facebook Fan Page, follow Twitter, dan terhubunglah di G+ kami untuk mendapatkan informasi terbaru seputar dunia kerja. Jangan lupa share artikel yang ada di jobsDB agar dapat menginspirasi rekan-rekan Anda dalam berkarier.