Jika Lembur Jadi ‘Tugas’ Anda

Kata lembur sepertinya sudah sangat akrab di telinga para professional. Walaupun rasanya sudah berusaha untuk memanfaatkan jam kerja sebaik-baiknya untuk menuntaskan tanggung jawab, terkadang kerja lembur jadi satu-satunya pilihan untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Untuk beberapa orang, work extra hour bahkan sudah jadi kebiasaan baik karena alasan load pekerjaan yang besar atau harapan pekerjaan bisa diselesaikan dengan lebih cepat dengan penambahan jam kerja.

Jika selama ini Anda berpikir bahwa kerja extra hours akan meningkatkan produktifitas, well, think again. Sebuah penelitian yang dilakukan Manchester School of Management pada 7.000 manager dari 23 negara menyatakan bahwa tidak ada peningkatan produktifitas kerja yang berarti walaupun jam kerja sudah ditingkatkan menjadi 48 jam seminggu.

Tapi tunggu dulu, bukan berarti kerja lembur Anda selama ini sia-sia. Hasil lebih lanjut juga mengejutkan. Produktifitas kerja dan kesehatan mental beberapa manager yang lembur meningkat karena mereka melakukannya dengan waktu yang tidak lebih dari sejam setiap hari dan dengan sukarela. Menurut Dr. Brian Faragher, kerja lembur mulai menunjukkan dampak negatif saat dilakukan lebih dari lima jam seminggu. Gejala seperti kelelahan berat dan penurunan daya konsentrasi pada akhirnya akan muncul dan mempengaruhi produktifitas kerja.

Ada beberapa hal yang turut menyuburkan budaya lembur. Salah satunya adalah stigma yang dipercaya, terutama oleh kalangan manager di UK, bahwa mereka tidak dianggap sebagai pekerja keras jika tidak bekerja lembur atau long working hours. Ditengah persaingan dunia kerja yang terus menuntut pelakunya untuk catch up dengan segala target dan perkembangan perusahaan, gejala yang sama juga sudah mulai muncul di negara ini. Pekerja dituntut untuk meraih target yang sudah ditetapkan perusahaan. Seringkali atasan tidak terlalu memusingkan strategi atau cara yang harus ditempuh karyawan. Yang penting pekerjaan selesai sesuai tenggat dan target pun tercapai.

Tidak ada yang melarang Anda untuk lembur, namun ada hal yang harus Anda perhatikan agar keseimbangan hidup dan kesehatan Anda tetap terjaga, diantaranya:

    1. Buat jadwal Usahakan untuk selalu merencanakan jadwal menyelesaikan pekerjaan dalam jam kantor. Bagi deadline setiap tahap pekerjaan dalam satu hari dan stick to it. Antisipasi lembur namun jangan lebih dari 1 jam sesudah jam kerja.
    2. Informasikan keluarga tentang pekerjaan Anda. Jelaskan alasan mengapa Anda harus pulang lebih malam dari biasanya. Didik keluarga Anda untuk mengenal pekerjaan Anda sehari-hari karena dukungan mereka untuk kesehatan mental Anda sangat penting. Anda bekerja selain untuk diri sendiri juga untuk mereka. Hal yang tidak Anda butuhkan saat pekerjaan menumpuk dan menuntut lembur adalah suasana rumah dan keluarga yang tidak kondusif.
    3. Delegasi Jika memungkinkan, delegasikan atau koordinasikan dengan rekan kerja. Terkadang kurangnya delegasi adalah sebab utama kerja lembur. Mulailah untuk mempercayai anak buah atau didiklah mereka agar bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar perusahaan. Komunikasikan dengan rekan kerja yang kompeten untuk membantu Anda. Bagaimanapun kinerja dan produktifitas tim adalah tanggung jawab bersama.
    4. Komunikasikan. .Jika pekerjaan Anda dirasa sudah terlalu banyak dan out of your hand, komunikasikan dengan atasan Anda. Jelaskan situasi yang Anda hadapi setiap hari dan cobalah untuk mendiskusikan penyelesaian yang tidak akan merugikan tim dan tentunya Anda. Negosiasi ini bukan berarti Anda menutup kemungkinan untuk lembur di masa yang akan datang, namun mengatur frekuensi agar sekali-kali Anda juga bisa pulang tepat waktu.