The Five People You Meet in Heaven

love_your_work

Eddie bekerja di taman hiburan hampir sepanjang hidupnya, memperbaiki dan merawat berbagai wahana. Tahun-tahun berlalu, dan Eddie merasa terperangkap dalam pekerjaan yang dirasanya tak berarti. Hari-harinya hanya berupa rutinitas kerja, kesepian, dan penyesalan.

Pada tahunnya yang 83, Eddie tewas dalam kecelakaan tragis ketika mencoba menyelamatkan seorang gadis kecil dari wahana yang rusak. Saat mengembuskan napas terakhir, terasa olehnya sepasang tangan kecil menggenggam tangannya. Ketika terjaga, dia mendapati dirinya di alam baka. Dan ternyata surga bukanlah taman Eden yang indah, melainkan tempat kehidupan manusia di dunia dijelaskan oleh lima orang yang telah menunggu. Lima orang yang mungkin orang-orang yang kita kasihi, atau bahkan orang-orang yang tidak kita kenal, namun telah mengubah jalan hidup kita selamanya, tanpa kita sadari.

Itulah kisah kehidupan seorang manusia bernama Eddie yang menjadi tokoh utama dalam novel laris karya Mitch Albom dengan judul The Five People You Meet in Heaven. Dengan indah Albom seakan ingin menjelaskan bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Orang-orang yang hadir dalam hidup kita, mereka adalah “utusan” Tuhan yang datang untuk sebuah alasan. Demikian juga dengan peristiwa-peristiwa hidup yang kita alami, semua itu memang harus terjadi.

Dalam novel itu, kenapa Eddie terluka saat perang sehingga kakinya pincang, karena Ia akan ditakdirkan menjadi teknisi di sebuah taman hiburan. Lalu kenapa di taman hiburan? Karena di sana dia akan ditugaskan untuk menyelamatkan seorang anak kecil, termasuk dipertemukannya dengan lima orang yang saat Ia hidup tidak diketahuinya. Ya, bahwa setiap kehidupan mempengaruhi kehidupan berikutnya, dan kehidupan berikutnya lagi, dan bahwa dunia ini penuh dengan kisah-kisah kehidupan, dan semua kisah kehidupan itu adalah satu.

Andai saat Eddie hidup mengetahui bahwa bekerja sebagai teknisi di taman hiburan adalah sebuah pekerjaan yang mulia karena bisa membuat banyak anak-anak bahagia, bahkan menyelamatkan hidup mereka, tentulah dia akan dengan bangga dan penuh suka cita menjalani profesinya itu sambil terus melakukan pelayanan kepada sesama, khususnya pengujung taman hiburannya. Namun karena tidak mengetahui dan tidak menerima atau mengikhlaskan kejadian di masa lalu, membuat dia merasa bekerja adalah sebuah keterpaksaan yang menyiksa.

Lalu bagaimana dengan Anda? Pekerjaan apa yang sedang Anda geluti saat ini? Mungkin bukan sebagai teknisi taman hiburan melainkan profesi lainnya, tapi pada prinsipnya apa pun pekerjaan Anda itu, harus dilakukan dengan total dan penuh rasa syukur. Esensinya bukan apa yang anda kerjakan, melainkan bagaimana Anda mengerjakannya. Kita memang tidak tahu kenapa Tuhan menakdirkan bekerja disini, tapi kita bisa berbaik sangka bahwa apa pun yang Tuhan pilihkan untuk kita, pasti itu yang terbaik untuk kita. Itu bukan berarti kita pasrah dan menghentikan usaha, bukan. Ini semata agar kita masuk ke dalam perasaan bersyukur bukan mengeluh. Bukankah bersyukur akan membuat perasaan kita bahagia, sementara mengeluh akan membuat kita menderita? Dan itu semua berpengaruh pada sikap kita terhadap orang lain.

Sesungguhnya pekerjaan yang kita geluti saat ini adalah sarana untuk mencapai sukses, bukan sukses itu sendiri. Orang sukses yang sesungguhnya adalah bukan yang menerima banyak, melainkan yang memberi banyak. Karena yang tercatat sebagai kebaikan adalah bukan dari yang kita terima, melainkan dari yang kita berikan. Tapi percayalah, kita akan menerima banyak jika memberi banyak. More we share, more we have.

Lalu apa yang sudah kita berikan bagi orang-orang yang hadir dalam kehidupan kita? Begini, misalnya Anda sedang berdiri di tepi kolam. Di tangan Anda ada dua batu kerikil. Di tangan kiri Anda batunya tercemar sehingga apabila Anda melemparkannya ke kolam, maka airnya akan tercemar bahkan sampai beberapa generasi mendatang. Di tangan kanan Anda ada batu pembersih, sehingga apabila Anda melemparkannya ke kolam, maka airnya akan menjadi bersih bahkan sampai beberapa generasi mendatang. Nah, sekarang, batu mana yang akan Anda lemparkan, terserah pada pilihan Anda.

Sikap yang kita lakukan, kita ibaratkan sebagai batu kerikil. Sedangkan air, kita ibaratkan sebagai orang-orang di dalam kehidupan kita. Apabila kita memilih bersikap yang negatif, maka sikap itu tidak hanya akan mencemari dan menghancurkan mereka, tetapi juga mencemari dan menghancurkan hidup kita. Sekarang mari kita renungkan dan akui dengan jujur, “batu” manakah yang sering kita lemparkan ke kolam kehidupan kita?

Tidak hanya Eddie yang hidup di novel The Five People You Meet in Heaven saja yang memiliki kisah hidup yang ajaib, kita semua sesungguhnya tengah menjalani takdir Tuhan yang ajaib dan misterius. Untuk itu, berikan yang terbaik untuk pekerjaan yang Anda tekuni saat ini, dan lemparkanlah batu pembersih pada kolam kehidupan Anda. Perlakukan orang-orang yang hadir dalam kehidupan Anda dengan baik, karena sesungguhnya mereka adalah “utusan” Tuhan. Mungkin saat ini Anda tidak tahu kenapa mereka menjadi bagian dari hidup Anda, tapi Insya Allah nanti Anda akan mengetahuinya. Berbaik sangkalah, karena Tuhan berkata; “Aku sesuai prasangka hambaKu”.

foto-sigit-risat-terbaru

Sigit Risat
Motivator and Career Coach jobsDB.com
Twitter: @SigitRisat

Sigit Risat adalah motivator dan trainer pengembangan diri menggunakan metode Mind Heart Connection (MHC), perpaduan psikologi terapan dan spiritual yang dikemas Fun, Inspiring and Touching (Edutainment). Selain memberikan In house Training untuk perusahaan-perusahaan dan menjadi pembicara di puluhan radio Indonesia, saat ini Ia memimpin PT. Harmoni Lima Inspirasi (Training and Event Organizer). Misi kehidupannya adalah : Menggugah kesadaran jutaan orang Indonesia menjadi pribadi berkarakter baik yang hidup dengan cinta kasih.

 

Sebagai bagian dari pelayanan kami kepada anda, jobsDB.com selalu berupaya menyediakan berbagai informasi mengenai dunia kerja, tips kepemimpinan, info karir dan tentunya puluhan ribu lowongan kerja terbaru. Besar harapan artikel diatas bermanfaat bagi anda