Cara Menghadapi Musuh di Kantor

Selama bekerja kamu pasti pernah menemukan ada orang-orang yang tidak terlalu cocok denganmu. Awalnya, mungkin hanya perasaan tidak suka. Lama-lama mulai terjadi perdebatan kecil, kemudian akhirnya secara tidak tertulis mendeklarasikan satu sama lain sebagai “musuh”. Musuh, saingan, tukang komentar, rival, atau apapun namanya terkadang bisa membuat kita terpacu untuk mencapai performa yang lebih baik. Namun, bagaimana jika harus bekerja sama dengan musuh di satu tim atau satu proyek?

Cara menghadapi musuhmu dikantor

Ayo tarik napas dan berpikir jernih untuk kemaslahatan kariermu. Bersitegang dengan rekan kerja sendiri lama-lama akan memperburuk suasana dan bisa berdampak buruk bagi orang-orang di sekitar kalian. Jadi, daripada menghabiskan jam makan siang mengeluh terus tentang musuhmu dan membawa energi negatif bagi rekan-rekan lain, lebih baik salurkan emosimu untuk “membakar” semangat berkariermu sendiri. Lakukan trik ini untuk menghadapi musuh di kantor dengan lebih dewasa dan menguntungkan. Jika berhasil, kamu bahkan tidak akan memiliki musuh lagi!

Cara Ampuh Menghadapi Musuh di Kantor

Ganti Hinaan dengan Kebohongan

Kebohongan tidak selamanya buruk dan negatif. Ada istilah white lie yang merupakan kebohongan demi kebaikan. Kadang, kita harus berbohong agar segala sesuatunya berjalan baik. Bayangkan betapa kacaunya kalau semua orang selalu jujur (“Kamu gendutan? Kok selera fashion-mu jelek sih? Jujur ya, omonganmu itu basi semua.”), bisa-bisa akan ada perang dunia sepanjang waktu.

Kesopanan adalah kebohongan yang terpoles dengan sangat baik. Kesopanan akan membuat hubungan antar manusia berjalan dengan baik, khususnya bagimu dan musuhmu. Eric Hoffer, seorang ahli filsafat, mengatakan bahwa mencari-cari kesalahan orang yang kita benci akan makin mengobarkan kebencian. Sebaliknya, memperlakukan musuh di kantor dengan murah hati akan memadamkan kebencian kita.

Daripada benci, lebih baik  memuji musuhmu—bahkan jika harus sedikit berbohong tentang pujian tersebut. Jika kamu memuji seseorang, mereka akan melihat pujian tersebut sebagai itikad baikmu. Mungkin, ia akan mulai bersikap baik dan balas memujimu. Hal ini akan mampu meredakan ketegangan di antara kalian dan mengubah hubungan kalian menjadi lebih baik serta menguntungkan.

Minta Saran dan Nasihat Padanya

Oke, mungkin ini kedengarannya gila. Untuk apa minta saran pada orang yang terus-menerus mengkritik, memperlakukanmu seperti bawahannya (padahal kalian selevel), dan sering menyalahkanmu? Bukankah lebih baik orang-orang macam ini langsung didorong ke dalam kawah gunung berapi saja?

Coba, mundur dan tenang sedikit. Selalu ada pilihan-pilihan di sekitarmu. Kamu bisa saja melabraknya, namun tindakan ini mungkin tidak terlalu efektif karena malah akan menambah ketegangan di antara kalian. Daripada melawan api dengan api, datangi dia satu lawan satu… dan minta saran kepadanya mengenai pekerjaan. Misalnya, ia bagus dalam memimpin tim, coba tanyakan kepadanya bagaimana caranya memonitor performa tim atau tips kepemimpinan yang jitu.

Mungkin awalnya ia akan kaget melihatmu berani mendatanginya dan tidak menyangka kamu akan berjiwa besar meminta nasihat profesional darinya. Langkah ini membuktikan bahwa kamu menganggap tindakan menyebalkannya sebagai motivasi, bukannya patah semangat diperlakukan seperti itu. Untuk “membalasmu”, dia akan terpaksa memberi saran dengan sportif (kecuali dia memang tidak punya perasaan dan tidak peduli kredibilitas). Dengarkan sarannya dan benar-benar lakukan yang menurutmu baik. Setelah itu, datangi dia lagi dan berterima kasih karena sarannya ampuh (kalaupun tidak seampuh itu, berbohonglah sedikit). Lakukan ini beberapa kali. Mungkin bahkan ia meminta saran balik padamu dan hubungan kalian jadi lebih baik.

Merenung

Ketimbang memikirkan cara-cara untuk membuat musuhmu yang ada di kantor menderita, bagaimana jika kamu merenung sejenak tentang si makhluk-menyebalkan-dari-kerak-neraka itu. Philo, seorang filsuf, menyarakan untuk berbaik hati pada musuhmu, karena semua orang memiliki perjuangan keras dalam hidupnya. Mungkin musuhmu pernah mengalami hal-hal sulit yang membentuk kepribadian kerasnya. Lalu, coba lihat lagi bagaimana orang-orang lain berinteraksi dengannya. Apa hanya kamu yang merasa tidak suka padanya? Apakah dia hanya menyebalkan terhadapmu? Apakah kamu di-bully?

Benjamin Franklin pernah berkata bahwa musuh harusnya disayangi, karena mereka terus-menerus mengingatkan keburukanmu. Pujian dari teman-teman bisa membutakan, maka musuh ada untuk menunjukkan kekuranganmu. Jika dilihat dengan positif, anggap saja kritikan tersebut sebagai sarana memperbaiki diri. Anggap musuh sebagai reminder gratis yang terus-menerus mengingatkanmu untuk meningkatkan performa di kantor.

Langkah terakhir, renungkan apa tujuanmu dalam berkarier. Apakah kamu ingin bebas konflik, dan senantiasa damai ATAU berjuang mencapai segala target yang ditetapkan? Apa ada tujuan yang ingin kamu capai, untuk diri sendiri dan kariermu? Jika kamu ingin mencapai sesuatu, masa bodohlah dengan semua ketegangan dan drama di tempat kerja. Konsentrasi untuk dirimu sendiri. Tetapi, sebaliknya, jika tujuanmu adalah bekerja dengan penuh cinta damai, mungkin mencari kantor baru adalah keputusan yang bijaksana—JIKA semua cara yang ditempuh gagal dan suasana tidak tertahankan lagi. The choice is all yours!

Tidak ada gading yang tak retak. Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Percayalah di manapun kamu bekerja, pasti selalu saja ada masalah. Pilihannya adalah berjuang dan terus beradaptasi dengan suasana kerja tersebut. Jika kamu merasa terus-menerus bermasalah, mungkin kamu harus berpikir ulang lagi. Apakah ternyata selama ini masalahnya adalah dirimu sendiri? Ingat, masalah apapun dapat diselesaikan dengan usaha. Jadi, jangan pernah berhenti berusaha, demi karier yang gemilang!