Roti Panggang dan Raja Alfred

Pada abad ke-9, Inggris di bawah raja Alfred sering berperang dengan kerajaan tetangganya. Kali ini, karena persiapan yang kurang, mereka pun terdesak. Singkat kata, bala tentara raja Alfred tercerai-berai melarikan diri. Raja Alfred sendiri terpaksa masuk hutan dan bersembunyi. Atribut kerajaan dilepaskannya, diganti dengan pakaian orang biasa supaya ia tidak dikenali sebagai raja.

Beberapa hari kemudian, ketika suasana sudah agak tenang, raja Alfred keluar dari persembunyian. Di tepi hutan, dia melihat sebuah gubuk. Dengan hati-hati dia mendekati gubuk itu dan menemui pemiliknya.

"Selamat sore Ibu yang baik, berbelas kasihanlah, saya kelaparan dan tidak punya punya tempat tinggal, biarlah saya boleh menumpang di sini, " raja Alfred memohon.

Mendengar permintaan itu, si petani miskin menjawab, "Baiklah kalau begitu. Kebetulan saya sedang memanggang roti, dan sebagai tugas pertamamu, jagalah ini supaya tidak gosong. Saya mau pergi sebentar mengambil sayur tambahan."

Si Ibu pun meninggalkan Raja Alfred sendirian menjaga panggangan roti.

Namun karena Raja Alfred masih terlalu sedih memikirkan kekalahannya dan pasukannya yang tercerai-berai, hatinya tidak berada pada tugas dan tanggungjawab barunya. Akibatnya, roti itu gosong.

Tidak lama, pemilik gubuk beserta suaminya pulang. Mendapati roti gosong bangkitlah amarah si Ibu. "Hei lelaki tak tahu diri. Engkau ini orang busuk, orang tengik, mengaku gelandangan kelaparan, tapi diberi tugas sederhana saja tidak mampu!"

Namun dengan secepat kilat, si Ibu ditarik suaminya ke belakang. "Eh, tahukah kamu siapa yang sedang kamu marahi itu?" kata si suami setengah berbisik kepada istrinya, berusaha agar suaranya tidak didengar oleh tamunya. "Dari tadi kuperhatikan, dia bukan rakyat jelata. Kudengar perang sudah usai. Pasukan raja Alfred tercerai-berai dan konon baginda bersembunyi di sekitar sini. Menurutku, yang sedang kamu marahi itu adalah raja Alfred sendiri.กจ"

Si Ibu terkejut. Segera dia pun bersujud, "Baginda, maafkan saya yang telah berani lancang memarahi junjungan sendiri."

Tetapi raja Alfed berkata,"Tidak apa-apa Bu, ini salahku. Aku memang lalai. Kepercayaan kecil yang Ibu berikan kepadaku tidak kulaksanakan dengan baik. Jadi, sudah sepatutnyalah Ibu marah."

Singkat cerita, raja Alfred berlindung beberapa lama waktunya di gubuk tersebut sampai keadaan membaik, tenang, dan akhirnya bisa kembali ke istananya, menata bala tentaranya, dan dalam perang-perang berikutnya ia selalu menang.

Konon keluarga petani miskin itu diajaknya tinggal di sekitar istana dan menjadi sabahat raja.

* * *

Kisah ini berpesan betapa pentingnya tanggungjawab. Menjaga roti adalah pekerjaan yang sangat mudah, namun bila tidak betul-betul dijaga, ditelateni, dan diseriusi maka perkara yang sederhana itu pun bisa gagal. Akibatnya roti pun hangus terbakar. Dalam kisah di atas, tubuh raja Alfred ada di dapur, di dekat pemangangan roti, tetapi pikiran dan hatinya berada di tempat lain.

Kalau kita menerima suatu tugas, sudah seharusnya segenap perhatian kita terkonsentrasi pada pekerjaan itu. Sekecil apa pun amanah yang dipercayakan, haruslah kita kerjakan dengan penuh tanggungjawab sehingga hasilnya benar dan bagus.

Tugas yang dipercayakan bisa beragam dengan skala prioritas yang berbeda. Apakah sekadar memanggang roti, memarkir mobil, membuat laporan, menyelenggarakan konferensi, atau bernegosiasi dengan pihak luar negeri dengan taruhan jutaan dollar, sama saja. Semua itu harus kita kerjakan dengan sungguh sesungguh-sungguhnya dan benar sebenar-benarnya.

Etos tanggung jawab adalah sebuah kunci sukses. Manusia yang bertanggung jawab niscaya akan lebih sukses lagi karena ia akan mendapat kepercayaan yang lebih besar di masa depan.