Resah, gelisah, putus asa seringkali menyelimuti perasaan seseorang yang hingga saat ini masih berusaha mencari kerja. Mencari pekerjaaan memang tak semudah membalik telapak tangan. Banyak proses yang harus dilalui di tengah persaingan yang semakin ketat.
Sarwani (26) gelisah di ruang tunggu sebuah perusahaan
pertambangan di Jakarta Selatan. Hampir genap tiga
tahun wanita muda itu menyandang status pengangguran
usai lulus dari salah satu perguruan tinggi swasta
di Jakarta. “Saya pasrah, kalau kali ini saya
gagal lagi mendapatkan pekerjaan,” katanya
lirih.
Sulitnya mencari pekerjaan di negeri ini bukan hal
yang aneh. Berdasarkan data dari Departemen Tenaga
Kerja, hingga pertengahan tahun ini sedikitnya 40
juta orang tercatat belum memiliki pekerjaan untuk
menjamin hari tua mereka. Sedangkan Biro Pusat Statistik
mencatat sedikitnya 10,3 juta orang di Indonesia
masuk dalam kategori pengangguran terbuka. Sedangkan
27,9 juta orang lainnya masuk dalam kategori pengangguran
setengah terbuka.
Pemerintah memang tidak tinggal diam dalam membantu
dunia usaha agar dapat berkembang dan menciptakan
kesempatan kerja. Tidak cuma itu, pemerintah juga
akan membantu pencari kerja meningkatkan keterampilan
dan memfasilitasi pencari kerja. Untuk mendukung
itu, Departemen Perindustrian (Deperin) menargetkan
pembangunan industri nasional hingga 2009 mampu menyerap
tenaga kerja 2,64 juta orang atau 13,6% secara nasional.
Kendati demikian, kenyataannya mendapat pekerjaan
masih “barang langka”. Angka pengangguran
terus membengkak dan bertambah hingga 600 ribu pengangguran
hingga Juni tahun ini. Angka yang memprihatinkan
mengingat jumlah perusahaan yang ada di negeri belum
mampu menampung angka pengangguran sebesar itu. “Kami
mencatat setidaknya 400.000 perusahaan yang masih
beroperasi di Jawa dan Bali,” ungkap Managing
Director & CEO Jobs DB Indonesia Eddy S
Tjahja.
Sarwani adalah satu dari sekian puluh juta anak
negeri ini yang belum mendapatkan pekerjaan. Situasi
itu yang membuatnya kian frustasi, tapi tahukah kita
bahwa rasa frustrasi menunggu datangnya panggilan
itu jauh lebih menyakitkan hati?
Namun hal itu tidak mungkin dihindari selain bertahan
dan bersabar. Kiat-kiat berikut, semoga mampu pertahankan
pemikiran positif kita untuk bersabar dan terus berusaha.
1. Rajin-rajinlah ngobrol dengan teman
Teman curhat yang baik akan banyak membantu. Camkan
saran-saran yang diberikan, siapa tahu bermanfaat
bagi Anda. Semakin banyak masukan yang diberikan
semakin baik bagi anda.
2. Buat catatan
Simpan catatan-catatan tentang nomor telepon atau
kapan dan kemana saja kita mengirim lamaran pekerjaan.
Hal-hal kecil seperti itu kadang akan lebih memudahkan
saat melakukan follow-up.
3. Bagi waktu dengan baik
Atur berapa lama waktu yang akan dihabiskan untuk
membuat surat lamaran yang akan dikirimkan baik
melalui riset maupun melalui website atau cara
lain. Kita tidak perlu berharap terlalu banyak
atau merasa kecewa saat tidak mampu menyelesaikan
apa yang telah ditargetkan tepat pada waktunya.
4. Tentukan tujuan
Motivasi adalah hal terpenting dalam mempertahankan
harapan agar tidak mudah putus asa. Jangan rancang
target yang berlebihan. Tetap realistis dan berusaha
untuk konsisten menjalankannya.
5. Perkuat keyakinan diri
Jangan biarkan diri Anda larut dalam frustrasi
berkepanjangan! Bila Anda memerlukan peralatan
kosmetik baru (parfum atau lipstick misalnya),
makan dessert yang enak, atau melakukan massage
hanya supaya anda merasa lebih baik, lakukan saja.
6. Kumpul dengan teman-teman
Sediakan waktu misalnya sekali dalam seminggu atau
sebulan untuk berkumpul dengan teman-teman Anda
(yang mungkin senasib), tanya perkembangan masing-masing
termasuk menjelaskan tentang perkembangan anda
sendiri. Usahakan agar suasana berlangsung santai
dan tidak mengeluarkan banyak uang.
7. Jeli Melihat Peluang
Kini, berbagai ajang pameran bursa kerja kerap diadakan. Bak jamur di musim hujan!
Luangkan waktu untuk terlibat di ajang tersebut. Jangan pernah menyerah terhadap
keadaan. Tapi, Anda juga harus jeli event mana yang memiliki kualitas paling
tinggi. Jangan sampai Anda membuang waktu percuma demi sebuah event yang belum
teruji. Anda harus jeli melihat kredibilitas penyelenggara ajang tersebut.
Salah satu yang harus Anda datangi adalah ajang pameran bursa kerja yang diselenggarakan
oleh Asia Expo dan disponsori JobsDB.com bertajuk CAREER 2007 “The
1st Premium Paperless Job Fair”. Acara ini diselenggarakan tanggal
28-29 Maret 2007 di Grand Ballroom Hotel Menara Peninsula Jakarta.
Beberapa kiat tersebut hanya sebagian dari banyak
cara membangun rasa optimis. Maklum, menjalani proses
pencarian pekerjaan sering kali menjemukan, berliku-liku
bahkan kadang menghabiskan biaya yang tidak sedikit.
Namun semua itu berpulang kepada individu, bagaimana
ia mampu mengelola optimistik itu sesuai dengan keutuhan
hati dan perasaan masing-masing. Kenapa harus pesimis
kalau di balik itu terbentang peluang untuk maju..Semoga
tetap optimis. (ich)
*Jobs DB